2015/01/05

Bandeng “WALI FOODS” Spesial Produk Dari Kota DEMAK



Bandeng wali foods memang belum populer bagi warga Demak. Namun, Haryati warga Perum Bumi Wonosalam Asri Jogoloyo Demak, mencoba jadi pelopor usaha tersebut. Ia berharap usahanya mampu memberikan konstribusi terhadap upaya peingkatan kesejahteraan warga Demak.
Aktifitas Haryati sudah empat tahun mengelola bandeng menjadi produk oleh-oleh khas kota wali Demak. Setiap harinya Haryati mampu memproduksi 25 kg dan keuntungan yang dia peroleh kisaran 250-300 ribu rupiah. Ada berbagai cara yang dilakukan untuk memenuhi target pemasaran, dengan cara penjualan online, baik lewat facebook maupun BBM dan mengikuti kegiatan expo atau bazaar baik di Demak maupun luar Demak. Alhasil penjualannya sampai diluar kota Demak, Semarang, Kudus, Jepara, Purwakarta, Tegal dan Palembang. Terima kasih Disperindagkop dan Fedep yang telah memberikan motivasi Walifoods sehingga menjadi salah satu produk unggulan kota wali demak.”ujarnya.

Demak Expo Tampilkan Produk Unggulan



Puluhan stand usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menyemarakkan pagelaran Demak Expo 2014, 4-9 Juni DI Gedung KONI. Event rutin tahunan tersebut selain memamerkan produk unggulan lokal juga dimeriahkan parade kesenian, lomba fashion show dan jalan sehat.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Demak, Eko Pringgolaksito mengatakan, potensi produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk unggulan dari luar daerah. Potensi itu dikembangkan salah satunya  melalui pembinaan koperasi. Demak expo ini digelar menyongsong proses penilaian tim evaluasi koperasi dari provinsi. Kegiatan ini bagian dari keberpihakan pemerintah daerah terhadap koperasi dan UMKM,” ujarnya disela-sela pembukaan pameran.
Melalui Expo itu, menurutnya bisa diketahui produk unggulan baik yang mewakili desa maupun kecamatan. Selain itu, para pelaku usaha nantinya bisa melakukan kemitraan usaha dan berkoordiasi dengan lembaga non pemerintah serta meningkatkan jaringan pemasaran.
Saat ini, kabupaten demak sudah mengupayakan produk hasil UMKM dikemas secara menarik. Di Kabupaten Demak, jumlah koperasi yang berdiri mencapai 778 unit. Jumlah tersebut mencakup koperasi baik aktif maupun pasif. Adapun Demak-Expo yang terselenggara ejak 2002 menjadi ajang promosi produk unggulan. Tahun-tahun sebelumnya, transaksi terbukukan pada demak expo hingga lebih dari Rp 1 Miliar.
Demak Expo 2014 dibuka oleh Wakil Bupati Harwanto dan dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko. Dalam sambutannya, harwanto berharao greget Demak Expo bisa menandingi pameran produk unggulan daerah seperti Jateng Fair. “Pengunjung datang tidak sekadar melihat tapi juga memebeli produk lokal agar perekonomian usaha di daerah bisa bergeliat.” Ucapnya.
Sementara itu, Sujarwanto Kepala Dinas Koperasi & UMKM Jateng menambahkan, perkembangankoperasi makin pesat hingga mampu memperkuat sendi perekonomian meski negara sempat dilanda krisis. Perkembangan koprasi di Jawa Tengah sendiri, hingga akhir 2013 tercatat sebanyak 27.215 koperasi. Dari jumlah itu, 80,22 persen diantaranya masih menjalankan aktifitasnya sampai sekarang. Sedangkan sisanya sudah tidak aktif.

Kembangkan Batik Motif Kadilangu



Perkembangan industri batik Demak dua tahun terakhir ini mengalami peningkatan pesat. Para pelaku industri yang bermunculan mengangkat berbagai cirii khas potensi alam dan budaya kota wali sebagai motif batiknya. Sebut saja motif pesisiran, jambu dan belimbing, juga motif yang mengangkat berbagai ornamen di masjid Agung Demak. Tampaknya perkembangan itu sedikit banyak terdorong oleh keberadaan claster batik demak. Paling tidak, kini ada 25 pelaku industri batik tercatat sebagai anggota claster. Dan belakangan, bebrapa diantara mereka  mulai mengembangkan  batik dengan motif potensi Kadilangu.
Salah satunya Ulfatussarriroh (21), pemilik griya unyu kadilangu. Gadis yang baru dua tahun lulus SMA dan tercatat sebagai mahsiswa Fakultas Hukum Untag Semarang ini serius menekuni industri batik. Dia memilih mengembangkan motif yang bernuansa Kadilangu. Diantara motif yang sudah dibuatnya adalah loro gendhing, cening (pae kemuning) dan caos dhaharan. Saat ini saya tengan mendesign motif prajurit patang puluhan dan minyak jamas, “ungkapnya.
Menurut gadis kelahiran 13 januari 1992 yang akrab dipanggil ulfa ini, ketertarikan mengembangkan motif kadilangu lantara belum banyak pelaku industri batik demak yang menggunakannya. Rata-rata, pembatik demak membuat motif pesisiran dan kesejarahan masjid Agung Demak. Padahal, potensi Demak tidak hanya disitu. Potensi yang ada di kadilangu banyak kok yang bisa diangkat. Misalnya berbagai makanan khas pada masa Sunan Kalijaga, atau rupa-rupa tumbuhan yang banyak terdapat di kompleks makam,” ujar ulfa.
Dikatakan, motif cening yang menjadi andalannya pun terinspirasi oleh tumbuhan khas kadilangu. Daun pace dipilihnya lantaran konon disukai sunan kalijaga. Daun tanaman itu bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan. Adapun kemuning merupakan tanman yang memiliki bunga harum nan indah yang hingga kini masih banyak dijumpai dikompleks makam Sunan Kalijaga.
Saya padukan daun pace dengan keindahan bunga kemuning menjadi motif cening. Alhamdulillah, sejauh ini banyak yang suka. Pembelinya sebagian besar justru para peziarah. Maklum, mereka mencari oleh-oleh yang menonjolkan kekhasan kadilangu,” kata sulung tiga bersaudara dari pasangan Suprihasi, SPd dan Sri Slamet.
Ulfa memasarkan produk batiknya di show room yang berada dikompleks wisata religi Kadilangu. Sedangkan proses produksi ia lakukan dirumah, yakni di Kampung Kauman Selatan RT 3 RW 1 Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota.

Potensi Wisata Religi Makam Mbah Mudzakir



Terik matahari yang menyengat kulit tak menyurutkan niat sejumlah orang menuju makam KH. Abdullah Mudzakir di perairan Sayung, Demak. Mereka terus menyusuri jalan setapak sepanjang 700 meter yang kanan-kirinya laut. Begitu sampai di kompleks makam, mereka melepaskan alas kaki dan duduk bersila didepan nisan berkeramik hijau. Wajah para peziarah itu masih terlihat kemerahan.
Di makam berukuran 7x7 meter itu mereka merasa sejuk. Selain terlindung cungkup, angin laut yang bertiup terasa menyegarkan. Ditambah lagi pemandangan yag sangat menarik disekitar makam, terlihat burung blekok beterbangan di area pohon bakau yang rimbun, dengan suara khasnya menghiasi suasana makam mbah muzakir.
Tak heran bila banyak santri yang datang untuk berziarah. Mereka tidak hanya dari Demak, tetapi juga luar daerah seperti Kudus, Wonosobo Bogor, Bandung bahkan Kalimantan. Meski makam kyai kharismatik itu berada ditengah laut, konon tidak pernah tergenang oleh air pasang. Disekitarnya memang terlihat banyak makam yang telah tergenang air. Hanya makam Mbah Mudzakir bersama istri dan anak-anaknya yang tidak terjamah air laut. Sampai saat ini makam tersebut tidak pernah sepi dari peziarah. Biasanya mereka datang pada jumat atau saat haul mbah mudzakir di bulan zulkaidah.
Lokasi makam dapat ditempuh dengan jalur darat dan laut. Jika melewati darat, terdapat jalan penghubung berupa titian kayu sepanjang 200 meter dari Dusun Tambaksari, Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak. Bila rob tiba, jalan itu tak lagi dapat dilalui karena tergenang air. Jalan setapak di Dusun Tambaksari juga tak bisa dilewati saat air pasang tinggi. Untuk tetap bisa kelokasi, peziarah harus naik perahu.
Menurut Camat Sayung, Indrianto Widodo makam Mbah Mudzakir punya potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata ziarah dan wisata pantai, karena berdekatan dengan kawasan pantai Morosari juga penangkaran burung blekok.

Kampung Bule Wonosari Predikat Satu Tingkat Jawa Tengah



Siapa bilang hanya di Bali dan Jogja saja yang ada bulenya, di Demak juga ada Bule. Tapi Bule yang satu ini bukan orang luar negeri yang berkulit putih dan bertubuh jangkung. Bule ini adalah singkatan Jambu dan Lele. Budidaya jambu merah delima dan jambu citra serta ikan lele yang dilakukan oleh masyarakat desa Wonosari Kecamatan Bonang menjadi popular dengan istilah Bule (Jambu + Lele). Oleh karena itu tidak salah jika Wonosari disebut dengan kampung bule.
Kampung Bule ini telah meraih predikat nomor satu di Jawa Tengah, bahkan kampung bule didaulat menjadi wakil Jawa Tengah dalam kompetisi kampung lele nasional. Oleh karena itu tidak salah jika kampung yang mampu menghasilkan ikan lele tujuh ton perhari, menjadi harapan roda penggerak ekonomi demak. Setidaknya ada beberapa potensi yang bisa dikembangkan dari kampung Bule ini. Antara lain industri rumah tangga pengelolaan lele (seperti keripik lele, abon lele, dendeng lele, sale lele), wisata edukasi beternak lele, pemancingan dan resto aneka makanan dari ikan. Penganan yang dihasilkan dari olahan lele ini juga menambah variasi kuliner Demak yang bisa menjadi oleh-oleh khas Demak, sehingga memeperkaya daya tawar pariwisata Demak.
Pameran agrobisnis tingkat Jawa Tengah menjadi sarana yang tepat memperkenalkan Demak kepada masyarakat, khususnya investor. Pameran yang digelar tiap tahunnya yang diikuti seluruh Kabupaten Di Jawa Tengah menampilkan segala potensi pertanian dan perikanan daerah. Disinilah produk-produk Demak ditunjukkan. Apa saja yang bisa dikembangkan di Demak.